Sabtu, 05 Maret 2016

Kisah Wa Lancar

(Dongeng dari Sumatra Utara) 


Wa Lancar adalah seorang pemuda yatim yang tinggal bersama ibunya. Sejak kecil, dia ingin menuntut ilmu agama. Namun Sang Ibu tidak mampu membiayai. Wa Lancar akhirnya rela disuruh mengerjakan pekerjaan rumah tangga di tempat mengaji demi mendapatkan pelajaran.

Dari tiga tempat yang didatangi, Wa Lancar hanya mendapatkan masing-masing satu pelajaran. Pertama, ”Kalau sudah lapar, jangan makan!” Kedua, “Kalau lelah berjalan, beristirahatlah!” Dan ketiga, “Ambil batu, ambil pisau, asah yang tajam!”

Sekalipun hanya mendapatkan tiga pelajaran sederhana, Wa Lancar menerimanya dengan kesungguhan hati. Karena merasa ilmu yang diperolehnya masih kurang, Wa Lancar pun pergi mengembara. Dalam perjalanannya, Wa Lancar selalu meminta izin untuk tinggal di masjid kepada penjaga masjid yang dia singgahi. Di masjid,

Wa Lancar memperdalam ilmu kitab suci pada Imam masjid. Dia juga membantu membersihkan masjid dan mengajar anak-anak mengaji. Karena kegigihannya dalam belajar dan sifatnya yang rendah hati, banyak anak dan orang tua yang menyukai kepribadian Wa Lancar.

Namun, ada saja orang yang merasa iri dengan Wa Lancar. Orang itu bernama Si Pulan. Diam-diam, Si Pulan mengadukan Wa Lancar pada Raja. ”Baginda, di masjid istana ada seorang guru ngaji bernama Wa Lancar. Dia mengajarkan ajaran sesat pada anak-anak,” lapor Si Pulan pada Raja.

Tanpa menyelidiki laporan Si Pulan terlebih dahulu, Sang Raja memerintahkan pengawal istana untuk menangkap Wa Lancar. Wa Lancar pun dihukum dengan diharuskan menikahi Putri Sang Raja. Ada satu keanehan yang dimiliki Sang Putri yang membuat takut semua orang. Sang Putri sudah beberapa kali menikah.

Namun, tak lama kemudian, suami Sang Putri selalu meninggal. Hingga kini, tak ada seorang laki-laki pun yang mau untuk dinikahkan dengannya. “Baiklah, Baginda Raja. Saya akan menikah dengan Putri Baginda Raja,” kata Wa Lancar menerima hukuman itu dengan ikhlas.

Rupanya Si Pulan masih tetap berniat jahat pada Wa Lancar. Diam-diam, dia membubuhi makanan Wa Lancar dengan racun saat perjamuan makan malam di istana. Saat itu, Wa Lancar merasa sangat lapar. Namun, dia teringat pesan gurunya yang pertama.

Akhirnya, jatah makanan itu diberikan pada teman yang duduk di sebelahnya. Sesaat setelah makanmakanan itu, teman Wa Lancar pun langsung meninggal. Wa Lancar selamat dari rencana jahat Si Pulan. Kegagalan ini membuat Si Pulan makin tidak senang. Dia pun mencari cara lagi untuk mencelakakan Wa Lancar.

Pada suatu pagi, Si Pulan mendatangi Wa Lancar. ”Aku diutus oleh Baginda Raja untuk menyampaikan sebuah pesan untukmu. Beliau menginginkan batu hitam yang banyak terdapat di sungai,” kata Si Pulan.

Baiklah, aku akan mencari batu-batu hitam itu,” jawab Wa Lancar.

Tanpa curiga, Wa Lancar berangkat ke sungai yang terletak agak jauh dari istana dengan ditemani beberapa orang pengawal kerajaan. Setelah mendapatkan batu hitam yang diinginkan Baginda, Wa Lancar pun kembali ke istana. Namun, dia merasa kelelahan. Dia kembali teringat pada pesan gurunya yang kedua. Wa Lancar memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon rindang, sementara para pengawal kerajaan berjalan lebih dulu.

“Toloong…, toloooong…!” Tiba-tiba, Wa Lancar dikejutkan oleh suara beberapa orang minta tolong. Wa Lancar terperanjat dan segera bangkit mencari dari mana asal suara tersebut. Ternyata, itu adalah teriakan para pengawal kerajaan yang terkena perangkap binatang. Sebenarnya, perangkap tersebut sengaja dipasang Si Pulan untuk mencelakakan Wa Lancar.

Namun, perangkap itu malah mengenai para pengawalnya. Selamatlah Wa Lancar dari tipu daya Si Pulan untuk kedua kalinya. Setelah menolong para pengawalnya, Wa Lancar dan rombongan berangkat menuju istana. Karena banyak pengawal yang terluka maka perjalanan pulang ke istana memakan waktu lama.

Mereka baru tiba di istana setelah lewat tengah malam. Karena lelah, Wa Lancar langsung menuju ke kamar Putri Raja, istrinya. Dilihatnya Putri Raja sudah tertidur lelap. Wa Lancar tidak langsung tidur. Dia duduk di kursi di samping meja rias Putri. Kemudian, dia meletakkan pisau di pinggangnya ke atas meja. Dia teringat dengan pesan gurunya yang ketiga.

Wa Lancar pun mengasah pisaunya dengan batu hitam yang tadi siang dikumpulkannya dari sungai. Setelah selesai mengasah, tiba-tiba dilihatnya lipan putih keluar dari sela-sela kaki Sang Putri. Dengan cekatan, dibunuhnya lipan itu menggunakan pisau yang baru saja diasah. Ternyata, lipan inilah yang menyebabkan para suami Putri Raja terdahulu meninggal. Wa Lancar dan Putri Raja pun hidup bahagia selamanya.

Pesan cerita:
Ilmu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh dan ikhlas walaupun sederhana akan mendatangkan manfaat yang besar.

0 komentar:

Posting Komentar