Minggu, 06 Maret 2016

Putri Tangguk Yang Sombong

(Dongeng dari Jambi)


Ada suatu anugerah besar dari Tuhan yang diberikan kepada Putri Tangguk. Putri Tangguk memiliki sawah yang luasnya hanya seluas tangguk atau tampah. Namun, sawah Putri Tangguk menghasilkan padi yang tidak pernah ada habisnya.

Setiap kali padi dipanen, secara ajaib akan tumbuh lagi bulir-bulir padi baru yang sudah menguning. Putri Tangguk dibantu suami dan ketujuh anaknya bekerja keras dari pagi hingga sore hari untuk memanen padi, kemudian memasukkannya ke dalam lumbung.

Ada tujuh lumbung padi yang dimiliki Putri Tangguk dan semuanya sudah hampir penuh. Seharusnya, keluarga Putri Tangguk tak perlu lagi khawatir kelaparan. Namun, keluarga itu masih terus memanen padi hingga ketujuh lumbung mereka penuh.

Pada suatu hari, Putri Tangguk yang sudah kelelahan memanen padi berkata pada suaminya. ”Aku ingin menenun kain di rumah untuk sementara waktu. Bukankah sekarang ketujuh lumbung kita sudah terisi penuh?”

“Terserah padamu, Putri. Tapi, akan kita apakan padi yang terus-menerus berbuah di sawah kita ini? Sayang sekali kalau padi-padi ini tidak dipanen,” kata suami Putri Tangguk.

“Silakan saja jika kau dan anak-anak masih mau memanen padi-padi itu. Kita sudah tidak punya lumbung lagi untuk menyimpannya. Bagaimana kalau kita serakkan saja di jalan dari sawah menuju rumah kita agar jalan yang kita lalui tidak licin,” usul Putri Tangguk.

Suami Putri Tangguk menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak setuju. ”Jangan takabur, Putri. Lihatlah orang lain yang harus bekerja keras setiap hari di sawah mereka yang luas agar mendapatkan padi. Sementara kita hanya tinggal memanen pada tanah ajaib milik kita itu,” kata suami Putri Tangguk menasihati.

“Justru karena kita mempunyai tanah ajaib itulah maka kita harus memanfaatkannya, Pak,” jawab Putri Tangguk seenaknya.

“Kalau begitu, biarlah orang lain kita izinkan untuk mengambil padi kita agar tidak mubazir. Kita berbagi rezeki dengan mereka,” usul suami Putri Tangguk.

“Jangan!!! Nanti semua orang akan mengambil padi-padi kita. Bagaimana kalau nanti persediaan padi kita habis? Nanti kita sendiri yang akan kerepotan.Sudahlah, Pak! Kalau Bapak tidak mau melaksanakan usulku, biarlah anak-anak saja yang melakukannya!” jawab Putri Tangguk ketus.

Keesokan harinya, Putri Tangguk dan anak-anaknya memanen padi untuk terakhir kalinya sebelum dia beristirahat dan menenun kain. Tapi, padi-padi tersebut tidak dibawa pulang ke rumah, melainkan diserakkan di sepanjang jalan menuju rumah Putri Tangguk.

Keesokan harinya, Putri Tangguk pun pergi mengambil padi di lumbung untuk ditumbuk menjadi beras. Dia berencana akan memasak nasi dan setelah itu, menenun kain. Betapa terkejutnya Putri Tangguk ketika dilihatnya tak ada satu pun bulir padi di dalam lumbung! Lumbung-lumbung miliknya yang lain pun dibuka oleh Putri Tangguk. Ternyata, semua lumbungnya kosong!

Hingga pintu lumbung ketujuh dibuka, tak ada satu bulir padi pun yang dia temukan. “Ke mana semua padiku? Pasti ada yang mencuri padi-padiku! Kalau begitu, aku harus mengambil padi lagi di sawah untuk memenuhi lumbungku,” pikir Putri Tangguk ketakutan.

Dengan tergopoh-gopoh, Putri Tangguk berlari menuju sawah miliknya. Betapa terkejutnya dia karena di sana sudah tak ada lagi tanaman padi ajaib miliknya. Padi ajaib itu telah berubah menjadi seonggok rumput mati. Putri Tangguk pun terduduk lemas. Dia menangis tak henti-henti hingga sore hari. Karena kelelahan, Putri Tangguk tertidur di pematang sawahnya. Di dalam tidurnya, dia bermimpi bertemu dengan seorang kakek tua berjenggot panjang.

Kakek tua itu berkata, ”Ini adalah hukuman bagimu yang telah menyianyiakan padi, Putri Tangguk! Kau telah berbuat sesuatu yang menyakiti hati kami. Kalau hanya kami yang kau serakkan di tanah, mungkin kami tidak akan marah. Ketahuilah, Putri Tangguk! Di antara padi-padi itu, ada Raja kami! Sebagai hukuman, sekarang kau harus bekerja keras untuk mendapatkan padi. Kau memang orang yang tidak berbudi dan tidak tahu berterima kasih!”

Putri Tangguk terbangun dari tidurnya ketika hari sudah gelap. Dia pulang dengan penuh penyesalan. Dia menyadari semua kesalahannya. Namun, kini segalanya sudah terlambat. Tak ada gunanya lagi untuk menyesal.

Pesan cerita:Bersyukurlah atas rezeki yang kita terima dan gunakan dengan sebaik-baiknya.

0 komentar:

Posting Komentar