Sabtu, 05 Maret 2016

Si Durbet Yang Malang

(Dongeng dari Sumatra Selatan)


Kemalangan yang kita peroleh bukan berarti Tuhan tidak adil pada kita. Setidaknya inilah yang selalu diyakini Durbet. Dia selalu ikhlas menerima segala perlakuan buruk dan penghinaan yang dilakukan orang lain padanya.

Nama asli Durbet adalah Muhammad Patar. Ketika masih kecil, ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi. Kini, Muhammad Patar hidup dengan ayah kandung dan ibu tirinya. Setiap hari pekerjaan Muhammad Patar adalah mengurusi kerbau peliharaan dan bermain-main dengannya. Kebiasaan ini sering membuat ibu tirinya kesal.

Suatu ketika, ibu tirinya merencanakan akan memotong kerbau tersebut. Untunglah, rencana ini diketahui lebih dulu oleh Muhammad Patar. Dia pun membawa pergi kerbaunya tanpa tujuan yang jelas. Ketika memasuki sebuah perkampungan, dia bertemu dengan seorang saudagar kaya.

“Hai anak muda, apa yang kau lakukan dengan kerbaumu malam-malam begini?” sapa Sang Saudagar sambil memandang anak itu dengan iba.

Sambil mengelus kerbaunya, Muhammad Patar menjawab, “Kami lari dari rumah karena ibu tiriku akan memotong kerbau ini.” “Siapa namamu?” tanya Sang Saudagar lagi.

“Muhammad Patar.”

“Nama yang bagus. Maukah kau ikut ke rumahku dan bekerja padaku sebagai kuli panggul?” ajak Sang Saudagar.

“Aku mau, asalkan diizinkan membawa kerbau ini ikut,” jawab Muhammad Patar.

“Tentu saja. Tapi dengan pekerjaan kasar seperti itu, nama Muhammad Patar kurang cocok untukmu. Bagaimana kalau aku ganti namamu menjadi Durbet?” tanya Sang Saudagar.

Rupanya anak itu tidak masalah dengan usulan nama barunya. Sejak itulah, Muhammad Patar lebih sering dipanggil dengan nama Durbet. Durbet bekerja dengan rajin di rumah Sang Saudagar. Ketika bekerja, Durbet selalu memakai pakaian dari kulit kambing sehingga badannya tampak lusuh.

Namun, pada sore hari setelah selesai bekerja, Durbet selalu mandi dan berganti pakaian yang rapi sehingga dia tampak tampan. Ketampanan Durbet ini pun dilihat oleh Putri Raja Waringin yang kebetulan tinggal di seberang sungai. Ingin rasanya Sang Putri mengatakan pada Raja bahwa dirinya menyukai Durbet.

Namun, dia sendiri tidak yakin Raja akan setuju dengan pilihannya karena Durbet bukanlah dari kalangan bangsawan.

Pada suatu hari, Sang Raja memanggil putrinya dan bertanya, ”Putriku, sudah saatnya engkau untuk menikah. Apakah sudah ada seorang laki-laki yang menarik hatimu?”

Sang Putri pun tersenyum karena merasa inilah saat yang ditunggu-tunggu. Namun, dia merasa pilihannya tidak akan disetujui oleh ayahnya. Jadi, Sang Putri pun menjawab, ”Ayah, hamba ingin mengadakan sayembara jika diizinkan.”

“Ya. Silakan, Anakku. Apa pun yang kau mau,

Ayah dan Ibumu akan mengabulkannya,” jawab Sang Raja.

“Undanglah seluruh pemuda dari Negeri Waringin maupun negeri di seberang sungai. Minta mereka berjalan di bawah loteng istana. Hamba akan menjatuhkan sapu tangan merah jambu pada pemuda pilihan hamba,” pinta Sang Putri.

Sayembara pun dilaksanakan. Anehnya, Sang Putri belum juga menjatuhkan sapu tangannya. Padahal, seluruh pemuda yang mengikuti sayembara itu telah berjalan di bawah loteng istana.

Akhirnya, dipanggillah ahli nujum istana untuk menghadap Raja. ”Wahai ahli nujum, mengapa Putriku belum juga menjatuhkan pilihannya?” tanya Sang Raja penasaran.

“Baginda, masih ada satu pemuda dari seberang sungai yang belum datang untuk mengikuti sayembara,” jawab Ahli Nujum.

Pemuda itu pun dipanggil untuk datang walaupun saat itu dia sedang sibuk bekerja. Begitu pemuda yang dimaksud berjalan melewati bawah loteng istana, Sang Putri segera menjatuhkan sapu tangan merah jambu miliknya. Sapu tangan itu tepat jatuh di atas kepala pemuda yang tak lain adalah Durbet.

Melihat calon menantunya adalah pemuda yang lusuh, Sang Raja marah. Dihinanya Durbet habis-habisan. Namun, Durbet menerima perlakuan Sang Raja dengan lapang dada. Walaupun demikian, sebagai Raja yang harus menepati janjinya, pernikahan tersebut tetap dilangsungkan. Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba Kerajaan Waringin diserang oleh pasukan dari negeri lain.

Banyak pasukan Negeri Waringin yang tewas. Melihat kerajaan dalam keadaan bahaya, tanpa diminta Sang Raja, Durbet maju ke medan perang. Dengan gagah berani, dia menghadapi pasukan musuh hingga akhirnya kemenangan berada di pihak Kerajaan Waringin.

Setelah kemenangan tersebut, Raja Waringin menemui Durbet dan berkata, ”Maafkan aku yang selalu memandang rendah padamu. Selama ini, aku sering bersikap dan berkata kasar padamu,” ujar Sang Raja pada Durbet.

Dengan rendah hati Durbet berkata, ”Wahai Baginda, hamba tidak pernah mempersoalkan hal tersebut. Semuanya hamba terima dengan lapang dada.”

Sebagai perwujudan rasa terima kasih karena telah menyelamatkan diri dan kerajaannya, Raja Waringin mengangkat Durbet menjadi Raja baru di Negeri Waringin. Siapa sangka, Durbet yang sebelumnya adalah pemuda biasa bisa menjadi seorang Raja. Kebaikan hatinya ternyata telah membuat suatu keajaiban.

Pesan cerita:Penghinaan dan perbuatan jahat orang lain yang kita terima dengan ikhlas sering kali mendatangkan kebaikan bagi kita. Perbuatan Sang Raja yang mau mengakui kesalahannya serta meminta maaf pada Durbet adalah sebuah perbuatan terpuji yang patut diteladani.

0 komentar:

Posting Komentar