Jumat, 30 Juni 2017

10 Fakta Yang Perlu Diketahui Tentang Imunisasi


Tahun 2015 diperkirakan ada 19,4 juta bayi diseluruh dunia yang tidak mendapatkan imunisasi rutin secara lengkap. 60% diantaranya merupakan bayi yang tinggal di sepuluh Negara termasuk Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah masih adanya anggapan-anggapan juga mitos yang keliru tentang vaksin. Beberapa anggapan tersebut diantaranya :

  1. Imunisasi itu tidak aman dan tidak efektif bagi anak.
  2. Vaksin yang digunakan untuk imunisasi tidak halal karena mengandung babi.
  3. Imunisasi justru membuat anak sakit panas 
  4. Vaksin MMR bisa menyebabkan autisme 
  5. Imunisasi cukup dilakukan pada bayi 
  6. Agar anak sehat tidak perlu imunisasi, cukup dengan Air Susu Ibu (ASI) maupun makanan bergizi
  7. Tidak ada imunisasi di negara maju, hanya negara miskin saja yang melakukan imunisasi.
  8. Vaksin yang dipakai di Indonesia diimpirt dari Ameika jadi tidak bisa dijamin halal atau tidak.
  9. Bekas suntikan pada saat imunisasi membuat tubuh menjadi bengkak dan merah-merah. 
  10. Anak yang diimunisasi nyatanya masih bisa kok tertular penyakit. Seperti Campak misalnya.  
Tapi benarkan semua anggapan tersebut? Mati kita lihat faktanya dari 10 mitos yang ada di atas. .

1. Imunisasi itu Aman 


Hingga saat ini vaksin terbukti aman dan efektif. Terbukti sampai sekarang ada 194 negara yang terus melakukan imunisasi pada bayi dan balita. Tidak ada satupun negara yang melarang vaksinasi dan mereka berusaha untuk meningkatkan cakupan imunisasi hingga lebih dari 90%.

Bahkan ada juga institusi resmi di setiap negara yag bertugas meneliti dan mengawasi vaksin di negara tersebut. Institusi ini merupakan gabungan dari berbagai ahli yang kompeten dibidangnya seperti dokter ahli penyakit infeksi, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi dan biostatistika. Jadi imunisasi itu  aman dan efektif bagi anak.

Proses produksi vaksin itu melalui riset yang panjang juga menggunakan standar Good Clinical Practive juga berdasarkan etik yang ketat. Di Indonesia, keberadaan vaksin tetap dipantau dengan baik ole pemerintah mlalui Badan POM juga KOMNAS PP KIPI.

2. Vaksin Itu Halal 

Pembuatan vaksin ini dilakukan di Indonesia dibawah pengawasan BPOM dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Memang ada vaksin yang menggunakan enzim tripsin pankreas babi, yaitu vaksin polio. Jadi tidak semua vaksin memerlukan enzim tripsin babi. Sebelum diproses,induk bibit vaksin telah dicuci dan dibersihkan total dari tripsin babi sehingga tidak mengganggu proses produksi vaksi selanjutnya.

Penggunaan enzim tripsin ini diperlukan sebagai katalisator untuk memecah protein menjadi peptida dan asam amino yang menjadi bahan makanan utama kuman. Dalam proses ini, kuman akan dibiakkan dan difermentasi kemudian diambil polisakarida kuman sebagai antigen bahan pembentuk vaksin.


Proses selanjutnya adalah purifikasi dan ultrafiltrasi dengan pengenceran mencapai 1/67,5 milyar kali hingga akhirnya terbentuk produk vaksin. Jadi pada hasil akhir proses sama sekali tidak akan terdapat bahan yang mengandung enzim babi. Begitu juga antigen vaksin juga tidak bersinggungan sama sekali dengan enzim tripsin baik baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

Perubahan wujud enzim tripsin babi ini sesuai dengan istilah :
"istihalah" yaitu perubahan wujud suatu benda dari satu bentuk dengan sifatnya kepada bentuk lain dan dengan sifat yang berubah juga. Perubahan wujud benda dapat diawali dengan benda haram lalu menjadi halal maupun sebaliknya dari halal ke haram (misal anggur menjadi khamar)

Vaksin yang bersinggungan dengan benda haram kemudian dicuci bersih hingga jutaan kali dan akhirnya terbentuk vaksin yang terbebas dari zat haram sesuai dengan :
" Istihlak yaitu bercampurnya benda najis atau haram pada benda yang suci sehingga mengalahkan sifat najis baik rasa, warna dan baunya.

JIka adanya enzim tripsin babi ini masih dianggap adanya indikasi keharaman, maka hukumnya adalah : Tetap boleh dengan alasan darurat dei mencegah terjadinya kesakitan kecacatan dan kematian karena penyakit dari selama belum ditemukan bahan vaksin halal dan suci. 

3. Imunisasi itu untuk mencegah penyakit , bukan membuat anak sakit 

Ada beberapa reaksi yang muncul setelah anak mendapatkan imunisasi. Seperti misalnya demam, kulit merah-merah, bengkak juga gatal di area sekitar suntikan. Hal ini merupakan reaksi yang wajar karena sesungguhnya demam yang paling sering muncul setelah imunisasi bisa diatasi dnegan pemberian obat penurun panas dan akan hilang dalam waktu satu hingga dua hari.

Fakta: Imunisasi mampu mencegah kesakitan , kecacatan dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi diantaranya kanker serviks, difteri,hepatitis B, campak, gondongan, pertusis, pneumonia, polio, diare akibatrotavirus, rubela dan tetanus


Justru anak yang tidak mendapatkan imunisasi akan mudah terserang penyakit berbahaya . Dampaknya adalah akan terjadi wabah hingga si anak mengidap penyakit yang berat, cacat bahkan kematian.

Saat ini Imunisasi mencegah sekitar 2-3 juta kematian pertahun. Jika cakupan vaksinasi global membaik maka 1,5 juta lagi akan bisa dihindari. Sayangnya hingg saat ini masih ada sekitar 19,4 juta bayi di seluruh dunia yang tidak mendapat imunisasi dasar.

4.Vaksin MMR bukan penyebab Autisme 


MRR (Measles, Mumps, Rubella) merupakan penyakit virus yang umumnya bersifat ringan pada anak. Hanya saja infeksi yang terjadi pada awal kehamilan bisa menyebabkan kematian janin atau sindrom rubela konginetal. Hal ini bisa menyebabkan kerusakan otak, jantung, mata dan telinga.

Mitos yang awalnya dikatakan oleh Spesialis bedah Inggris yaitu dr. AndrewWakefield ini menyatakan bahwa 8 dari 12 anak dalam penelitian yang mndapatkan imunisasi MMR mngalami gangguan autisme.Namun sebuah penelitian dari WHO akhirnya mematahkan pendapat tersebut.

Penelitian WHO menyatakan bahwa tidak ada kaitan antara vaksin MMR dan autisme. Autisme dipengaruhi oleh faktor genetik bukan karena vaksin. 

Faktanya lagi adalah bahwa sample 12 anak yang diambil oleh Dr Wakefield tersebut
5 subjeck sudah ada kelainan autisme sebelum imunisasi dan 7 subjek bukan autisme.

5. Imunisasi yang dilakukan pada saat bayi perlu diulang saat anak bersekolah di SD 


Tidak semua imunisasi yang diberikan ketika bayi harus diulang. Hanya beberapa imunisasi saja seperti imunisasi campak, DT (difteria dan TT (Tetanus). Pengulangan ini perlu dilakukan karena vaksin yang diberikan ketika bayi kekebalannyasudah berkurang.

6.Imunisasi tidak bisa digantikan dengan ASI, gizi atau suplemen lainnya. 


Air Susu Ibu (ASI), gizi dan suplemen hanya bisa memperkuat pertahanan tubuh secara umum. Namun semuanya itu tidak bisa membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu. Jadi kalau ada kuman ganas dan jumlahnya sangat banyak yang masuk ke dalam tubuh, maka pertahanan tubuh tidak akan mampu melindungi bayi. Hingga akhirnya bayi akan sakit berat, cacat bahkan mati.

Imunisasi merangsang pembentukan antibodi dan kekebalan seluler yang spesifik terhadap kuman-kuman atau racun tertentu, sehingga bekerja lebih cepat, efektif dan efisien untuk mencegah penularan penyakit berbahaya. 

7.Imunisasi sudah dilakukan di 194 Negara mulai dari negara miskin hingga negara maju. 


Saat ini 194 negara termasuk negara maju mlakukan imunisasi. Namun demikian masih ada saja 19,4 juta bayi di seluruh dunia yang belum menerima imunisasi rutin DTP3 di tahun 2015. 60% anak ini hidup di 10 negara yaitu : Angola, Republik Demokratik Kongo, Etiopia, India, Indonesia, Irak, Nigeria, Pakistan, Filipina dan  Ukraina.

8.Vaksin yang digunakan di Indonesia adalah buatan asli Indonesia 


Vaksin yang digunakan untuk Imunisasi anak-anak Indonesia adalah buatan dalam negeri. Vaksin ini diproduksi oleh PT Biofarma yang merupakan BUMN dengan pabrik di Bandung. Proses produksi dibawah pengawasan ketat oleh BPOM dan WHO. Bahkan vaksin produksi BIofarma ini telah dieksport dan dipakai di 120 negara di dunia. 36 negara diantaranya merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim.

9. Ada reaksi yang bisa terjadi setelah imunisasi. 


Reaksi yang terjadi setelah imunisasi itu memang biasa terjadi dan wajar. Ini karena tubuh bereaksi pada vaksin yang masuk. Reaksi yang sering muncul adalah demam juga merah,bengkak serta gatal di sekitar bekas suntikan. Hanya saja reaksi ini akan hilang dalam waktu satu atau dua hari. NAmun jika dalam waktu 3 hari reaksi tersebut tidak juga hilang maka ada baiknya segera memeriksakan anak ke dokter.

10.Bayi dan balita yang telah diimunisasi masih bisa tertular penyakit namun jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. 


Ada kalanya anak yang sudah diberikan imunisasi campak masih bisa terkena campak. Ini karena perlindungan yang diberikan vaksin memang tidak 1005. Hanya saja bayi dan balita yang sudah diberi imunisasi dan tertular penyakit, maka penyakit yang dideritanya jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Berbeda halnya dengan bayi maupun balita yang tidak diberikan imunisasi, mereka akan jauh lebih mudah tertular dan penyakitnya bisa jadi berbahaya. Kadar antibodi (zat kekbalan) pada bayi dan anak balita yang sudah diimunisasi terbukti jauh lebih tinggi dibanding dnegan balita maupun bayi yang tidak mendapat imunisasi.

Sumber bacaan : www.idai.or.id

Tonton video ini juga ya

0 komentar:

Posting Komentar