Senin, 09 Desember 2019

Peran Perempuan dan Laki-Laki Saat Ini Tidak Lagi Beda



Kali ini kembali mendapat kesempatan untuk hadir dalam Vivatalk yang diadakan pada hari Selasa tanggal 3 Desember 2019 bertempat di Hotel Milenium Kebon Sirih Jakarta. Tema kali ini adalah Perempuan Berdaya Indonesia Maju.

Kali ini menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya diantaranya
Sri Danti Anwar sebagai Pakar Gender. Beliau membahas Kodrat perempuan dan kontruksi gender yang patriarki. Ada juga
Eko Bambang Sugianto pemerhati perempuan. Dan yang terakhir adalah Diajeng Lestari Founder Hijup.


Di era digital kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di masyarakat. Masih  saja terjadi anggapan bahwa laki-laki yang harus bekerja mencari nafkah sedangkan perempuan mengerjakan tugas rumah tangga. Padahal sebenarnya perempuan berpotensi untuk maju. Untuk itulah perlu adanya edukasi literasi digital sebagai salah satu cara meningkatkan pemberdayaan perempuan khususnya di bidang ekonomi.

Dalam hal ini pendidikan menjadi hal yang sangat penting. Bukan hanya untuk laki-laki, tapi juga bagi perempuan. Semua harus seimbang. Perempuan juga memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki. Menurut Ibu Danti, hingga saat ini masih ada perbedaan-perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan. Untuk itulah maka UU no 7 tahun 1984 kini sudah banyak perubahan. Hal ini bertujuan untuk memajukan kaum perempuan.

Dengan memaksimalkan potensi.
Pemerataan pemberdayaan kewirausahaan perempuan bisa menaikkan Pendapatan Domestik  Bruto (PDB). Apalagi saat ini sudah banyak perempuan yang terjun dalam bisnis digital. Dengan meningkatnya pendidikan,.maka peluang perempuan sudah terbuka untuk maju. Sehingga masalah peran untuk bisa bertukar dengan pasangan hanya tinggal dikomunikasikan. Istri cukup berkomunikasi dengan suami untuk bisa berkarir di luar rumah.

Kodrat perempuan ada 4, haid, hamil, melahirkan, menyusui. Jadi pekerjaan perempuan bisa saja dikerjakan oleh laki-laki dan pekerjaan laki-laki dikerjakan oleh perempuan. Kedua-duanya bisa berperan menyesuaikan kebutuhan dalam rumah tangga. Jadi jangan dianggap aneh.

Di era digital ini, mungkin ada banyak perempuan yang harus  bekerja mencari nafkah tambahan bagi keluarga. Namun disisi lain ada juga perempuan yang punya perspektif kalau laki-laki yang harus bekerja. Perempuan bekerja atau tidak, itu akan menjadi lebih baik jika merupakan kesepakatan bersama dengan pasangannya. Namun jika dilandasi dengan niat kerjasama dan kesadaran yang tinggi itu akan jauh lebih baik.

Kendala perempuan di era digital adalah perspektif masyarakat ataupun keluarga besar. Dukungan laki-laki  yang selama ini memiliki privilege di masyarakat secara gender kepada perempuan akan sangat berpengaruh bukan hanya mendekatkan pada nilai dirinya sendiri tapi juga pada upaya pemberdayaan perempuan.

Keterbukaan laki-laki sebagai fundamental kemajuan perempuan, dimana ketika  istri ikut bekerja, maka  laki-laki bisa membagi waktu lebih banyak untuk kegiatan sosial maupun urusan keluarga. Perempuan dan laki-laki mempunyai kesempatan, akses, serta peluang yang sama untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

Saat ini kita bisa melihat ada banyak perempuan yang berperan dalam pengembangan ekonomi. Infrastruktur dan kebijakan politik juga mendukung dalam membentuk ketahanan perekonomian.

Diajeng Lestari sharing tentang perjalanan bisnisnya di Hijup. Bisnis ini berawal dari hanya 2 karyawan dan kini sudah mempunyai 200 partner brand fashion. Ini menjadi salah satu bukti bahwa Internet itu membuka kesempatan untuk banyak orang.

Peluang fashion muslim di Indonesia itu sangat besar. Saat ini Indonesia menduduki peringkat 10 besar fashion muslim dunia. Diperkirakan nanti pada tahun 2030 Indonesia akan menjadi  pemain fashion no.3 di dunia.